Penyakit Campak Atau Tampek

Penyakit campak atauu tampek merupakan salah satu penyakit yang terjadi pada anak dan biasanya penyebab penyakit campak ini adalah disebabkan karena virus. Penyakit campak bisa dialami oleh siapa saja, namun umumnya penyakit campak ini akan dialami saat masih berusia anak-anak. Cara penularan penyakit campak atau tampek adalah melalui udara dan juga melalui bersin atau percikan ludah. Gejala penyakit campak atau tampek ditandai dengan demam tinggi pada anak, ruam yang terjadi di kulit dengan warna bintik merah, batuk, hidung berair, mata perih dan psikologi penderitanya menjadi lebih mudah marah dan tersinggung. Biasanya di dalam mulut si penderita akan terlihat bintik putih kecil.

Penyakit campak atau tampek bisa terjadi suatu komplikasi yang berbahaya, namun hal ini jarang terjadi. Cara mencegah penyakit campak adalah dilakukan vaksinasi pada saat anak masih berusia 12-15 tahun. Biasanya vaksinasi ini disertai dengan vaksin gondong dan juga rubella.

Cara mengobati penyakit campak secara alami bisa dilakukan dengan menggunakan bahan dua genggam beras dan kemudian direndam. Kemudian ambilah daun asam jawa dan 2 kunyit yang besarnya se-ibu jari kemudian di tumbuk sampai halus. Caranya adalah dengan membuat bedak dingin yang dibentuk seperti bola-bola kecil, kmudian dijemur hingga mengering dan cara menggunakannya adalah dengan mengoleskan bedak tersebut pada bagian yang terkena campak.

Cara mengobati penyakit campak atau tampek adalah dengan memarut dan memeras jagung muda. Keudian air dari hasil tumbukkannya ini digunakan untuk bedak. Jika penyakit campak ini menimbulkan demam yang tinggi, minumlah air kepala hingga demam hilang.

Cara membuat ramuan yang bisa dipakai untuk mengobati penyakit campak atau tampek adalah membuat ramuan yang terbuat dari segenggm tepung beras, 3 siung kencur, dan asam jawa sedikit saja. Kemudian dicampurkan semua bahannya dan aduk hingga merata. Oleskan ramuan ini pada bagian yang campak. Lakukan hal ini 3 kali sehari.

Posted in Penyakit Campak | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Campak Dan Pencegahannya

Rubeola, yang juga disebut campak 10 hari atau campak merah, adalah suatu infeksi saluran napas atas yang disebabkan oleh paramiksovirus. Campak biasanya dijumpai pada anak dan ditularkan dari orang ke orang melalui percikan liur (droplet) yang terhirup. Masa inkubasi asimtomatiknya adalah 7 sampai 12 hari sebelum penyakit muncul. Penyakit inis angat menular. Penyakit aktif ditandai oleh gejala-gejala awal (prodmoral) yang diikuti oleh ruam.

Gejala prodmoral mencakup demam tinggi, batuk menyalak, pilek, pembesaran kelenjar getah bening.

Infeksi aktif ditandai oleh :

  • Bercak koplik di mukosa pipi (bukal). Bercak koplik adalah titik putih yang dikelilingi oleh cincin kemerahan
  • Suatu ruam makulopapular disertai eritema pada sekitar hari ke 3 atau ke 4. Ruam berawal di wajah, menyebar ke badan, dan akhirnya ekstremitas. Ruam biasanya menetap sekitar 4 hari.

Diagnosis biasanya dibuat berdasarkan riwayat dan hasil pemeriksaan fisik.

Ensefalitis campak adalah komplikasi rubeola yang relatif sering dijumpai. Komplikasi ini dapat disebabkan oleh virus campak itu sendiri atau akibat infeksi bakteri sekunder. Pemulihan biasanya terjadi sempurna, tetapi dapat juga terjadi kerusakan otak yang menetap dan kematian. Dapat timbul pneumonia setelah campak.

Penatalaksanaan dari penyakit campak ini adalah dengan terapi primer. Terapi primer adalah pencegahan dengan vaksinasi menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan pada usia 15 bulan setelah kelahiran. Pemberian ulang dilakukdilakukan pada usia 4 sampai 5 tahun dan terkadang pada usia remaja.
Terapi infeksi campak bersifat suportif dan mungkin memerlukan antibiotik apabila terjadi bakteri sekunder.

Posted in Penyakit Campak | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penularan Campak

Campak atau nama lainnya measles atau rebuola adalah penyakit akut yang sangat menular. Disebabkan oleh infeksi virus yang umumnya menyerang anak-anak. Campak memiliki gejala klinis khas yaitu terdiri dari 3 stadium yang masing-masing mempunyai ciri khusus :

  1. Stadium masa tunas berlangsung kira-kira 10-12 hari, suhu tubuh dapat meningkat sedikit 9-10 hari sejak mulai infeksi dan turun dalam 24 jam. Pasien dapat menularkan virus pada hari ke 9/10 setelah paparan sebelum penyakit dapat didiagnosis. 
  2. Stadium prodromal, berlangsung 3-5 hari, ditandai dengan demam ringan sampai sedang, gejala pilek, batuk yang meningkat, serta konjungtivis, kemudian ditemukan ruam kemerahan pada mukosa pipi (bercak koplik)
  3. Stadium akhir dengan keluarnya ruam dari belakang telinga dan menyebar ke muka, badan, lengan, dan kaki. Ruam timbul didahului dengan suhu badan yang meningkat, kemudian normal kembali secara cepat. Selanjutnya ruam menghitam dan mengelupas. 
Penularan campak sangat efektif dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Penularan campak terjadi melalui percikan ludah yang keluar dari batuk, bersin, atau pilek. Pasien campak tanpa komplikasi/ penyulit dapat berobat jalan, tanpa perawatan dirumah sakit. Anak harus diberi cukup cairan dan kalori sedangkan pengobatan bersifat simptomatik dengan pemberian antipiretik untuk menurunkan demam, obat batuk/pilek, dan penenang jika diperlukan. Sedangkan campak dengan komplikasi perlu dirawat inap dirumah sakit. Vitamin A 100.000 IU per oral diberikan satu kali apabila terdapat malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari.

Pencegahan campak dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif pada bayi berumur 9 bulan atau lebih. Program imunisasi campak secara luas baru dikembangkan pelaksanaannya pada tahun 1982.

Reaksi KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi) imunisasi campak yang banyak dijumpai terjadi pad aimunisasi ulang pada seseorang yang telah memiliki imunitas sebagian akibat imunisasi dengan vaksin campak dari virus yang dimatikan. KIPI imunisasi campak telah menurun dengan digunakannya vaksin campak yang dilemahkan. Gejala KIPI berupa demam diatas 39,5 derajat celcius yang dimulai pada hari ke-5 dan 6 setelah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari.

Berbeda dengan infeksi alami, demam tidak tinggi, walaupun tetap dapat merangsang terjadinya kejang demam. Ruam dapat dijumpai pada 5% pasien, timbul pad hari ke 7 hingga 10 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 4 hari. Reaksi KIPI berat jika ditemukan gangguan sistem syaraf pusat seperti infeksi otak (ensefalitis), diperkirakan resiko terjadinya kedua efek samping tersebut 30 hari setelah imunisasi.

Posted in Penyakit Campak | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Penanganan Campak

Beberapa dibawah ini adalah gejala-gejala yang harus kita kenali dari penyakit campak :

-Fase pertama disebut masa inkubasi berlangsung sekitar 10-12 hari. Pada fase ini , anak sudah mulai terkena infeksi , tetapi belum tampak gejala apapun.
-Fase kedua disebut fase prodormal akan timbul gejala lelah, demam, batuk, hidung beringus, mata merah, berair, dan perih, terkadang anak juga mengalami diare.
-Fase ketiga ditandai dengan keluarnya bercak merah seiring dengan demam tinggi yang terjadi. Namun, bercak tidak langsung muncul diseluruh tubuh, melainkan bertahap dan merambat. Mulai dari belakang dada, muka, tangan, dan kaki. umumnya jika bercak merahnya sudah keluar, demam akan turun dengan sendirinya. Bercak merahpun makin lama makin menjadi kehitaman da bersisik (hiperpigmentasi), rontok , dan sembuh dengan sendirinya.

Cara penanganan campak :

1. Bila campaknya ringan , anak cukup dirawat dirumah tetapi jika campaknya berat sampai terjadi komplikasi maka harus dirawat dirumah sakit.
2. Beberapa penderita campak mengalami komplikasi yang termasuk infeksi telinga, diare, radang otak (ensefalitis), radang paru-paru (broncho pneumonia), sehingga memerlukan rawat inap dirumah sakit. Komplikasi dapat terjadi karena virus campak menyebar melalui aliran darah ke jaringan tubuh lainnya dan paling sering menimbulkan kematian pada anak adalah komplikasi radang paru-paru dan radang otak.
3. Anak perlu dirawat ditempat tersendiri agar tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain, terutama bila ada bayi dirumah yang belum mendapat imunisasi.
4. Lakukan pengobatan yang tepat dengan berkonsultasi pada dokter.
5. Bagi penderita asupan makanan bergizi seimbang dan cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya.
6. Jaga kebersihan tubuh anak dengan tetap memandikannya karena masih banyak orangtua yang memperlakukan anak secara salah, seperti anak tidak dimandikan.
Dikhawatirkan keringat yang melekat pada tubuh anak menimbulkan rasa lengket dan gatal yang mendorongnya menggaruk kulit dengan tangan yang tidak bersih sehingga terjadi infeksi berupa bisul-bisul kecil bernanah.
7. Istirahat yang cukup.

Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mencegah datangnya penyakit ini. Perlindungan terbaik terhadap campak adalah imunisasi denga dua dosis vaksin MMR. Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap infeksi campak disamping gondong dan Rubella. Vaksin MMR harus diiberikan kepada anak-anak usia 12 bulan dan dosis kedua harus diberikan pada usia 4 tahun.
Lebih aman jika menerima vaksin lebih dari dua kali, maka jika tidak yakin maka harus vaksinasi untuk meningkatakan imunitas terhadap campak.

Posted in Penyakit Campak | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Campak

Campak merupakan penyakit virus yang mudah sekali menular dan dapat mendatangkan komplikasi serius. Hampir semua anak dibawah 5 tahun akan terserang penyakit ini, campak juga biasanya menyerang anak remaja atau dewasa muda yang tidak terlindungi oleh imunisasi.
Penyakit campak sebetulnya tidak berakibat fatal apabila menyerang anak-anak yang sehat dan bergizi baik karena campak disebabkan oleh virus sehingga bila sistem imunitas kurang akan menjadi sangat berbahaya. Campak hanya akan menulari sekali seumur hidup, tapi bila daya tahan tubuh kuat, bisa saja anak tdak terkena campak sama sekali.

Campak biasanya ditularkan melalui udara saat penderita batuk atau bersin ke dalam udara. Campak merupakan salah satu infeksi manusia yang paling mudah ditularkan. Berada didalam ruangan yang sama dengan seseorang penderita campak dapat mengakibatkan infeksi.

Penderita campak biasanya dapat menularkan penyakit dari saat sebelum gejala timbul sampai empat hari setelah ruam atau bercak merah timbul, dalam istilah kedokteran bercak merah disebut makulopapuler.
Biasanya bercak memenuhi seluruh tubh dalam waktu sekitar satu minggu. Namun bila daya tahan tubuhnya baik maka bercak merahnya tak terlalu menyebar dan tak terlalu penuh. Ada yang beranggapan dan harus diluruskan, yaitu bercak merah pada campak harus keluar semua karena kalau tidak justru malah akan membahayakan penderita.
Sebenarnya jumlah bercak menandaqkan ringat beratnya penyakin, semakin banyak jumlahnya berarti semakin berat penyakitnya. Dokter akan mengusahakan agar pada anak tidak sampai muncul disekitar tubuh.

Posted in Penyakit Campak | Tagged , , , , , | Leave a comment

Vaksin Penyakit Campak

Ibu yang telah mempunyai beberapa anak sudah mengenal gejala dan tanda penyakit campak. Memang tidak semua bercak-bercak merah pada kulit wajah, leher, dan seluruh tubuh berarti campak. Ada lebih dari lima penyakit yang menyerupai campak.

Gejala awal campak berupa demam, timbul pilek hebat yang disertai timbulnya kemerahan pada mata. Anak silau menatap cahaya, mata berair, yang sangat mirip dengan sakit mata merah.

Bercak merah pertama muncul di belakang daun telinga, lalu menyebar ke leher, dada dan kemudian ke seluruh tubuh. Ada satu tanda yang sangat khas pada penyakit ini, yaitu timbulnya bercak koplik pada selaput lendir mulut di bagian pipi. Bercak ini cepat sekali menghilang. Tampak sebagai noktah berwarna putih kelabu yang tidak dimiliki oleh penyakit lain. Hanya dengan menemukan adanya bercak koplik ini, kita dapat memastikan bahwa seorang anak sedang mengidap penyakit campak. Selain itu juga adanya peradangan mata yang menyertai bercak merah pada kulit, yang kemunculannya dimulai pada belakang daun telinga dan menghilang secara berangsur-angsur setelah menetap untuk beberapa minggu berupa bercak kehitaman.

Penyakit campak sendiri tidak berbahaya. Penyakit itu sembuh sendiri dengan atau tanpa komplikasi. Kematian terjadi jika komplikasi menjadi buruk ketika kondisi tubuh anak pun buruk. Anak-anak kurang gizi, yang sedang mengidap penyakit TBC, dan yang sakit-sakitan, lebih sulit menghadapi komplikasi campak yang dideritanya. Ini karena pada penyakit campak, daya tahan tubuh menjadi sangat menurun. Jadi, kemungkinan terserang berbagai jenis bibit penyakit semakin mudah.

Penyakit ini sangat menular. Virus bersarang di rongga hidung dan menyebar ke udara di sekitarnya. Anak-anak sekolah dapat tertular dari seorang teman yang sedang menderita campak. Hanya mereka yang pernah terkena atau pernah divaksinasi yang dapat terbebas dari bahaya penularan.

Kira-kira seminggu sehabis kontak dengan penderita, gejala campak muncul pada anak yang tercemar virus campak. Demikian seterusnya, estafet penyakit dapat terjadi dalam satu keluarga yang beranak banyak. Sembuh yang satu giliran yang lainnya sakit secara bergantian.

Vaksin Campak (Morbili)

Imunisasi diberikan untuk mendapat kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif. Vaksin campak mengandung virus campak yang telah dilemahkan. Vaksin campak yang beredar di Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering tunggal atau dalam kemasan kering dikombinasi dengan vaksin gondong/bengok (mumps) dan rubella (campak Jerman). Di Amerika Serikat terakhir ini dikenal dengan nama vaksin MMR (Measles-Mumps-Rubella vacine).

Cara Imunisasi

Bayi baru lahir biasanya telah mendapat kekebalan pasif terhadap penyakit campak dalam kandungan dari ibunya. Makin lanjut umur bayi, makin berkurang kekebalan pasif tersebut. Waktu berumur enam bulan biasanya sebagian dari bayi tidak mempunyai kekebalan pasif lagi. Dengan adanya kekebalan pasif ini sangat jarang seorang bayi menderita campak pada umur kurang dari enam bulan.

Menurut WHO (1973) imunisasi campak cukup satu kali suntikan setelah bayi berumur 9 bulan. Lebih baik lagi setelah ia berumur lebih dari 1 tahun. Karena kekebalan yang diperoleh berlangsung seumur hidup, maka tidak diperlukan imunisasi ulang lagi. Di Indonesia keadaannya berlainan. Kejadian campak masih tinggi dan sering dijumpai bayi menderita penyakit campak ketika masih berumur antara 6-9 bulan, jadi pada saat sebelum ketentuan batas umur 9 bulan untuk mendapat vaksinasi campak seperti yang dianjurkan WHO. Dengan demikian di Indonesia dianjurkan pemberian imunisasi campak pada bayi sebelum bayi berumur 9 bulan, misalnya pada umur 6-9 bulan ketika kekebalan pasif yang diperoleh dari ibu mulai menghilang. Akan tetapi kemudian harus mendapat suntikan ulang setelah berumur 15 bulan.

Jika anak telah benar-benar menderita sakit campak, maka vaksinasi campak tidak perlu diberikan lagi. Masalahnya adalah apakah anak tersebut benar menderita campak. Biasanya seorang ibu mendasarkan dugaan sakit anaknya itu hanya karena adanya demam yang disertai timbulnya bercak merah di kulit. Gejala demam dengan bercak merah tidak hanya pada penyakit campak, tetapi dapat juga dijumpai pada penyakit lain, seperti penyakit “demam 3 hari”, demam berdarah, campak Jerman dan sebagainya.

Vaksin campak sebaiknya tidak diberikan pada anak dengan penyakit gangguan kekebalan (defisiensi imun). Tidak diberikan pada anak yang menderita penyakit keganasan atau sedang dalam pengobatan penyakit keganasan. Sebaiknya imunisasi campak pada ibu hamil ditangguhkan. Pada anak yang pernah menderita kejang, imunisasi campak bisa diberikan seperti biasanya, asalkan dengan pengawasan dokter.

Saat ini, di Indonesia dalam bidang imunisasi Departemen Kesehatan masih memberikan prioritas utama terhadap 7 jenis penyakit yang tergabung dalam Program Pengembangan Imunisasi.

Posted in Penyakit Campak | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Campak Jerman

Penyakit Campak Jerman atau dalam bahasa kedokteran disebut dengan Rubella disebabkan oleh penularan virus Rubella yang disebut juga German measles.

Penyebab dan Gejala

a. Penyakit Rubella mirip penyakit campak tetapi tidak seberat penyakit campak yang banyak menyerang dan menimbulkan kematian pada anak balita (sebelum usia sekolah)

b. Penyakit Rubela hanya menimbulkan demam ringan dan anak menjadi agak rewel. Kemudian si anak sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan.

c. Secara klinis penyakit Rubella juga sulit mengenalnya

d. Bintik merah di kulit yang pada penyakit campak mudah dikenal masyarakat awam, pada Rubella jarang terlihat. Gejala bintik merah di kulit hanya timbul pada 15-20% penderita Rubella

e. Gejala lain seperti pilek, mata merah, dan batuk-batuk, tidak ditemukan pada Rubella

Hingga karena gejala klinis ringan dan tidak menimbulkan kematian, penyakit Rubella kurang mendapat perhatian dari para klinisi. Demikian juga perhatian dari pemerintah masih kurang sekali.

Terlihat belum ada program vaksinasi Rubella oleh Departemen Kesehatan. Padahal bila dihitung secara epidemiologi dengan perkiraan angka kelahiran 2,5%, jumlah wanita usia subur adalah 45 juta dan masih ada 86% perempuan yang beresiko tertular virus Rubella seperti hasil penelitian sebelumnya. Diperhitungkan setiap tahun mungkin lahir anak yang cacat akibat infeksi Rubella sebanyak 700.000 anak.

Akibat penyakit Rubella yang serius, bila terjadi pada ibu hamil. Apalagi  bila infeksi virus Rubella terjadi pada ibu hamil muda. Anak yang dikandung akan cacat berupa tuli, buta, atau kelainan yang timbul setelah anak lebih besar yaitu gangguan pertumbuhan, gangguan faktor-faktor dalam darah, atau penyakit Diabetes atau gangguan fungsi hati

Vaksinasi Rubella

Sudah saatnya Pemerintah memberikan vaksin Rubella, hal ini dikarenakan :

1. Vaksin untuk pencegahan penyakit Rubella sudah tersedia di pasaran

2. Kita sudah memiliki tenaa ahli, teknologi dan pengalaman dalam bidang imunisasi

3. Sebetulnya dengan memberikan vaksinasi sekali dalam seumur hidup pada wanita subur sebelum memasuki pernikahan, sudah cukup untuk menghindari infeksi yang sudah disebutkan di atas

4. Perhitungan secara finansial, biaya vaksinasi untuk 45 juta wanita usia subur sebesar 45 milyar rupiah.

Teknik pengumpulan sasaran vaksinasi Rubella dengan menjaring siswi yang akan masuk tahun ajaran baru di SMP dan SMA, Universitas. Teknik ini sudah dilakukan dalam program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah).

Posted in Penyakit Campak | Tagged , , , , , , , , , , | 1 Comment

Penyakit Campak Pada Anak

Campak (Rubeola) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Campak merupakan penyebab kematian bayi umur kurang dari 12 bulan dan anak usia 1-4 tahun. Diperkirakan 30.000 per tahun anak Indonesia meninggal akibat komplikasi campak. Campak berpotensi menyebabkan kejadian luar biasa atau pandemik.

Campak adalah penyakit yang disebabkan oleh paramiksovirus, genus morbili. Virus campak dapat hidup dan berkembang biak pada selaput lendir tenggorok, hidung, dan saluran pernapasan. Penularan penyakit campak berlangsung sangat cepat melalui udara atau semburan ludah (droplet) yang terisap lewat hidung atau mulut. Penularan terjadi pada masa fase kedua hingga 1-2 hari setelah bercak merah timbul.

Campak

Penampilan klinis campak dapat dibagi menjadi 3 tahap, sebagai berikut :

1. Fase pertama disebut masa inkubasi yang berlangsung sekitar 10-12 hari, pada tahap ini orang yang sakit belum memperlihatkan gejala dan tanda sakit

2. Pada fase kedua (fase prodormal) barulah timbul gejala yang mirip penyakit flu, seperti batuk, pilek dan demam tinggi dapat mencapai 38-40 derajat Celcius, mata merah berair, mulut muncul bintik putih (bercak Koplik) dan kadang disertai mencret

3. Fase ketiga ditandai dengan keluarnya bercak merah seiring dengan demam tinggi yang terjadi. Namun, bercak tidak langsung muncul di seluruh tubuh, melainkan bertahap dan merambat. Bermula dari belakang telinga, leher, dada, muka, tangan, dan kaki. Warnanya pun khas; merah dengan ukuran yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil. Biasanya bercak memenuhi seluruh tubuh dalm waktu sekitar 1 minggu dan jika bercak merahnya sudah keluar, demam akan turun dengan sendirinya

Komplikasi

Biasanya, komplikasi sering terjadi pada anak-anak dibawah usia 5 tahun dan anak-anak dengan gizi buruk. Komplikasi dapat terjadi berupa radang telinga tengah, radang paru (pneumonia) atau radang otak (ensefalitis). Kematian pada penyakit campak bukan karena penyakit campaknya sendiri, melainkan karena komplikasinya (radang otak atau paru).

Pengobatan

Bagi dokter yang sudah berpengalaman, penyakit campak dapat diketahui melalui tanya jawab dan pemeriksaan terhadap tanda-tanda yang muncul pada pasien. Namun bila diperlukan kepastian terhadap penyakit campak, maka perlu dilakukan pemeriksaan khusus, yaitu pembiakan virus atau serologi campak.

Tidak ada obat spesifik untuk mengobati penyakit campak. Obat yang diberikan hanya untuk mengurangi keluhan pasien (demam, batuk, diare, kejang). Pada hakikatnya penyakit campak akan sembuh dengan sendirinya. Vitamin A dengan dosis tertentu sesuai dengan usia anak dapat diberikan untuk meringankan perjalanan penyakit campak (agar tidak terlalu parah). Jika anak menderita radang paru dan otak sebagai komplikasi dari campak, maka anak harus segera di rawat dirumah sakit.

Pencegahan

Tidak jauh berbeda dengan gondongan, upaya pencegahan penyakit campak dilakukan dengan cara menghindari kontak dengan penderita, meningkatkan daya tahan tubuh dan vaksinasi campak.

Vaksin Campak

Vaksin campak merupakan bagian dari imunisasi rutin pada anak-anak. Vaksin biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (vaksin MMR/mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha atau lengan atas. Jika hanya mengandung campak, vaksin diberikan pada umur 9 bulan. Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun.

Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif, dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir dari ibu yang telah kebal (berlangsung slama 1 tahun). Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah bayi berumur lebih dari 1 tahun, bayi yang tidak mendapatkan imunisasi dan remaja serta dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua sehingga merekalah yang menjadi target utama pemberian imunisasi campak.

Vaksinasi campak di Indonesia termasuk dalam imunisasi rutin, diberikan pada bayi umur 9 bulan. Kadar antibodi campak tidak dapat dipertahankan sampai anak menjadi dewasa. Pada usia 5-7 tahun, sebanyak 29,3% anak pernah menderita campak walaupun pernah diimunisasi. Sedangkan kelompok 10-12 tahun hanya 50% yang mempunyai titer antibodi diatas ambang batas.

Posted in Penyakit Campak | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment